LATAR BELAKANG & TUJUAN
- Meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui sistem zero runoff
- Mengurangi limpasan air hujan
- Meningkatkan infiltrasi dan memaksimalkan daur ulang air
- Mendukung penghematan air dan kelestarian lingkungan
WEGE berkomitmen menerapkan konstruksi berkelanjutan melalui penyediaan produk dan jasa berkualitas dengan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab sepanjang construction lifecycle, penerapan sistem manajemen lingkungan secara konsisten, pengendalian dampak lingkungan, serta inovasi dan efisiensi untuk mendukung agenda transisi iklim global dan penciptaan nilai berkelanjutan.
(dalam ribu)
| Tahun | Jumlah Pelanggaran Lingkungan |
|---|---|
| 2022 | 0 |
| 2023 | 0 |
| 2024 | 0 |
| 2025 | 0 |
WEGE telah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 di seluruh unit operasionalnya guna mendukung peningkatan berkelanjutan dalam kinerja lingkungan. WEGE telah mencapai cakupan sertifikasi 100% di semua bidang operasional, yang menegaskan komitmen perusahaan dalam memastikan bahwa sistem manajemen lingkungan diterapkan sesuai dengan standar nasional dan internasional. Verifikasi ISO 14001 dilakukan oleh pihak eksternal PT Sucofindo untuk memastikan bahwa WEGE secara konsisten melaksanakan upaya mitigasi dampak lingkungan, menerapkan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, serta mencapai efisiensi sumber daya dalam setiap proyek konstruksi yang dilaksanakan.
Selama empat tahun terakhir, WEGE tidak menerima sanksi administratif, denda, maupun hukuman yang signifikan terkait pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Tidak terdapat kasus ketidakpatuhan yang mengakibatkan pemberian sanksi oleh otoritas berwenang selama periode pelaporan tersebut.
WEGE telah menerapkan Sistem Manajemen Energi berdasarkan ISO 50001:2018 dengan cakupan implementasi di Kantor Pusat, Pabrik, Fasilitas Perkantoran di Pabrik Modular, serta Proyek. Penerapan sistem manajemen energi ini menjadi dasar bagi Perseroan dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan energi, mengidentifikasi peluang efisiensi, serta memantau kinerja konsumsi energi secara berkala.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap efisiensi energi dan operasional yang lebih berkelanjutan, Perseroan menjalankan berbagai inisiatif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan bahan bakar. Inisiatif tersebut mencakup pemanfaatan panel surya, penghematan listrik melalui pemadaman peralatan yang tidak digunakan, optimalisasi penggunaan AC, penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi konsumsi BBM, serta pengaturan operasional alat berat agar penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien. Seluruh inisiatif ini merupakan bagian dari upaya WEGE dalam mendukung operasional yang lebih ramah lingkungan.
Dalam pelaporan konsumsi energi, cakupan data WEGE mengalami peningkatan secara bertahap dari tahun ke tahun. Pada tahun 2022, data konsumsi energi yang dihitung mencakup 5% wilayah operasional Perseroan. Pada tahun 2023, cakupan perhitungan meningkat menjadi 60% wilayah operasional. Selanjutnya, pada tahun 2024 dan 2025, cakupan data telah mencakup 100% wilayah operasional Perseroan.
Peningkatan konsumsi energi yang signifikan dari tahun 2024 ke tahun 2025 juga dipengaruhi oleh pelaksanaan mega project nasional yang meningkatkan intensitas aktivitas operasional Perseroan secara signifikan. Peningkatan aktivitas proyek tersebut berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan energi di lapangan, sejalan dengan karakteristik kegiatan konstruksi yang konsumsi energinya berkaitan erat dengan skala dan intensitas operasional.
Pada tahun 2025, pencapaian kinerja energi secara korporasi ditetapkan melalui target penghematan energi sebesar 2%. Target penggunaan listrik ditetapkan sebesar 19.579 GJ, sedangkan realisasi penggunaan listrik tercatat sebesar 17.980 GJ, atau lebih rendah 1.599 GJ dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, target penggunaan bahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 375.691 GJ. Realisasi penggunaan BBM tercatat sebesar 336.960 GJ, atau lebih rendah 38.731 GJ dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Untuk penggunaan LPG, target tahun 2025 ditetapkan sebesar 1.088,83 GJ, sementara realisasinya tercatat sebesar 980 GJ, atau lebih rendah 109 GJ dibandingkan target yang telah ditetapkan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa realisasi penggunaan energi WEGE pada tahun pelaporan berada di bawah target yang telah ditetapkan, sejalan dengan upaya Perseroan dalam meningkatkan efisiensi energi dan mendukung pengelolaan operasional yang lebih berkelanjutan.
WEGE mendukung transisi menuju pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan energi terbarukan secara bertahap, yang saat ini telah diimplementasikan pada fasilitas pabrik modular melalui penggunaan panel surya sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon.
1.161 kWh
1.023 kWh
1.387 kWh
WEGE menerapkan program efisiensi energi pada operasional kantor dan proyek melalui pemanfaatan teknologi hemat energi, optimalisasi penggunaan peralatan, serta pengendalian konsumsi listrik secara berkelanjutan. Inisiatif ini mendukung pengurangan biaya operasional, penurunan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan kinerja lingkungan perusahaan.
Riset & Pengembangan untuk Menurunkan Konsumsi Energi
Dalam upaya menekan konsumsi energi pada proses konstruksi, WEGE secara konsisten menginvestasikan riset dan pengembangan (R&D) yang diarahkan pada efisiensi energi di seluruh lini operasional. Pada tahun 2025, WEGE meluncurkan NETRO (Smart Net Zero Growing Modular House), sebuah inovasi rumah tumbuh yang "bernapas" dan dilengkapi sistem monitoring energi secara real-time. Melalui NETRO, WEGE tidak hanya menghadirkan solusi hunian modular yang adaptif, tetapi juga berhasil menekan konsumsi listrik serta emisi yang timbul selama proses konstruksi berlangsung.
Sebelum itu, sejak tahun 2024 WEGE telah lebih dulu mengimplementasikan Sistem Manajemen Energi di lingkup proyek. Sistem ini dirancang untuk mengelola penggunaan energi secara lebih terstruktur, sehingga efisiensi energi proyek dapat ditingkatkan sekaligus menekan biaya energi yang dikeluarkan.
Melengkapi kedua inisiatif tersebut, WEGE kini tengah mengembangkan Rancang Bangun Sistem Laporan Proyek Terintegrasi Berbasis Dashboard Interaktif. Sistem ini berfungsi untuk mensentralisasi data QHSE dan energi dari berbagai proyek ke dalam satu platform, sekaligus mengotomasi pengolahan data sehingga kinerja QHSE dan energi dapat dipantau secara lebih cepat, akurat, dan terintegrasi.
Melalui rangkaian inovasi ini, WEGE berkomitmen untuk terus menghemat konsumsi energi dalam setiap lini operasionalnya, sebagai bagian dari kontribusi nyata perusahaan terhadap efisiensi sumber daya dan keberlanjutan jangka panjang.
(kWh/m2/bulan)
(% dari rencana pengurangan penggunaan BBM)
WEGE berupaya mengoptimalkan penggunaannya melalui berbagai inisiatif efisiensi energi. Upaya ini sekaligus mendukung implementasi Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi.
WEGE memahami bahwa air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan manusia, tidak hanya untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di sekitar kantor pusat maupun area proyek.
Perusahaan memperoleh air dari dua sumber utama, yaitu PDAM dan air tanah, dengan pengelolaan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan perlindungan sumber daya air. Selama periode pelaporan, pemantauan konsumsi air dilakukan pada kantor pusat dan seluruh proyek. Pengawasan di kantor pusat dilakukan secara rutin oleh Corporate Secretary untuk memastikan penggunaan air tetap efisien dan memenuhi target pengelolaan yang telah ditetapkan.
WEGE memahami bahwa air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan manusia, tidak hanya untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di sekitar kantor pusat maupun area proyek. Perusahaan telah memasang perangkat penghemat air (water saving devices) berbasis sensor untuk optimalkan penggunaan air selama kegiatan proyek. Selain itu, flow meter atau watermeter juga dipasang disetiap lokasi proyek baru untuk meningkatkan akurasi pencatatan serta efektivitas pemantauan konsumsi air secara berkala.
Perusahaan telah menerapkan beberapa program efisiensi penggunaan air di proyek konstruksi.
Mengingat semakin terbatasnya sumber air bersih, perusahaan mengambil langkah strategis untuk mengoptimalkan pemakaian air. Salah satunya adalah pemasangan Waste Water Treatment Plant (WWTP) di kantor pusat sejak 2021. Fasilitas ini memungkinkan air limbah yang telah melalui proses pengolahan digunakan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti penyiraman tanaman dan pemeliharaan area hijau.
Dalam pengelolaan air limbah, perusahaan memastikan bahwa setiap aliran limbah diproses dengan benar agar tidak mencemari lingkungan. Air bekas pakai dari kantor pusat dan proyek dialirkan melalui sistem pembuangan terstruktur.
Pada beberapa proyek, air bekas cuci beton diarahkan terlebih dahulu ke bak pengendapan untuk menghilangkan material padat sebelum dibuang ke saluran kota. Sementara itu, limbah dari toilet dialirkan ke lubang resapan melalui septic tank, memastikan proses pengelolaan berlangsung aman dan ramah lingkungan.
Dilakukan penampungan pada septic tank sementara, kerja sama dengan pihak ketiga untuk diangkut keluar proyek setiap seminggu sekali.
Perusahaan juga melaksanakan program edukasi bagi seluruh karyawan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya penghematan air. Sosialisasi dilakukan di seluruh unit kerja, termasuk kantor pusat, pabrik, dan area proyek, untuk membangun kebiasaan penggunaan air yang lebih bijak. Dengan langkah ini, perusahaan berharap dapat menurunkan konsumsi air secara signifikan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya air.
| Tahun | Emisi (Cakupan 1 & Cakupan 2) | Reduksi Emisi | ||
|---|---|---|---|---|
| Keluaran | Perbandingan Tahun Sebelumnya | Realisasi | Target | |
| 2022 | - | - | - | - |
| 2023 | 11.880,7 | - | 0% | 0% |
| 2024 | 18.662,0 | 11.880,7 | 0% | 0% |
| 2025 | 24.106,9 | 18.662,0 | 0% | 0% |
| 2026 | 31.723,3 | 24.106,9 | 0% | 0% |
WEGE secara bertahap melakukan pengelolaan dan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui pemantauan emisi, efisiensi energi, serta penerapan praktik operasional yang lebih berkelanjutan.
Perhitungan emisi mencakup Cakupan 1, Cakupan 2, dan Cakupan 3 sesuai pedoman IPCC Guidelines dan faktor emisi ketenagalistrikan DJK ESDM.
Pada tahun 2024 dan 2025, WEGE telah berhasil melakukan pengukuran dan pelaporan emisi Cakupan 3 untuk tiga kategori utama, yaitu transportasi dan distribusi hulu, perjalanan dinas, serta pembelian barang dan jasa..
Target Emisi pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 27,658 tCO2e. Realisasi emisi pada tahun 2025 tercatat sebesar 25,143 tCO2e, atau lebih rendah 2,524 tCO2e dibandingkan target yang telah ditetapkan.
WEGE menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai bagian dari komitmen jangka panjang menuju operasional konstruksi yang lebih rendah karbon. upaya ini dilakukan secara bertahap melalui penugatan sistem investarisasi emisi, peningkatan efisiensi energi, serta penerapan teknologi konstruksi yang lebih ramah lingkungan.
Dalam pelaporan data emisi, cakupan data WEGE mengalami peningkatan secara bertahap dari tahun ke tahun. Pada tahun 2022, data konsumsi energi yang dihitung mencakup 5% wilayah operasional Perseroan. Pada tahun 2023, cakupan perhitungan meningkat menjadi 60% wilayah operasional. Selanjutnya, pada tahun 2024 dan 2025, cakupan data telah mencakup 100% wilayah operasional Perseroan.
WEGE menargetkan pencapaian Net Zero Emission atau emisi nol bersih pada tahun 2060 untuk Cakupan 1 dan Cakupan 2. Komitmen ini menjadi bagian dari arah strategis perusahaan dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung upaya global menghadapi perubahan iklim.
WEGE berkomitmen untuk mendukung transisi iklim global melalui strategi pengelolaan gas rumah kaca yang komprehensif. Roadmap Net Zero Emission mengungkapkan strategi dekarbonisasi bertahap yang berfokus pada efisiensi operasional, elektrifikasi, integrasi energi terbarukan, dan pengelolaan energi cerdas guna mendukung pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060.
WEGE mengidentifikasi perubahan iklim sebagai risiko sekaligus peluang strategis dalam pengembangan bisnis berkelanjutan. Risiko utama meliputi dampak fisik seperti cuaca ekstrem, kenaikan suhu, banjir, dan kenaikan permukaan air laut yang dapat menghambat proyek, meningkatkan biaya operasional, serta menurunkan produktivitas. Untuk mitigasinya, WEGE menerapkan penguatan risk assessment, adaptive scheduling, desain infrastruktur yang lebih resilien, efisiensi penggunaan air, serta perlindungan asuransi proyek.
Dari sisi transisi, perubahan regulasi karbon dan standar bangunan hijau menjadi tantangan yang direspons melalui penerapan green design, pengembangan konstruksi rendah karbon, dan peningkatan transparansi ESG guna menjaga daya saing serta kepercayaan investor. Di sisi peluang, WEGE melihat potensi besar pada pembangunan green building, Zero Emission Building (ZEB), energi terbarukan, dan infrastruktur hijau yang mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan dan ketahanan jangka panjang perusahaan.
WEGE menerapkan skema insentif berbasis kinerja yang turut mencakup pencapaian target keberlanjutan dan iklim Perusahaan. Skema ini diterapkan melalui KPI Korporasi yang diturunkan secara berjenjang kepada seluruh level organisasi, mulai dari Board Level, manajemen, hingga level staff. Dengan demikian, keberhasilan pencapaian KPI Korporasi menjadi tanggung jawab bersama dan manfaat atas pencapaiannya dapat dirasakan oleh seluruh insan WEGE sesuai dengan mekanisme pengelolaan kinerja Perusahaan.
Salah satu KPI yang memiliki keterkaitan dengan isu iklim adalah target pencapaian ESG Rating. Target ini mencerminkan komitmen WEGE dalam meningkatkan kinerja Environmental, Social, and Governance, termasuk pengelolaan emisi, efisiensi energi, penerapan konstruksi berkelanjutan, tata kelola perubahan iklim, serta pengelolaan risiko dan peluang terkait iklim. Pada tahun 2026, WEGE menetapkan target ESG Rating sebesar 40 dengan bobot sebesar 7% dari keseluruhan KPI Korporasi.
Jenis insentif yang diberikan atas pencapaian KPI ini berupa reward (jasa produksi) dan recognition atas kontribusi individu, unit kerja, dan organisasi dalam mendukung pencapaian target keberlanjutan dan iklim Perusahaan. Melalui mekanisme ini, WEGE mendorong integrasi aspek iklim ke dalam pengelolaan kinerja, memperkuat akuntabilitas internal, serta memastikan bahwa pencapaian target ESG dan iklim menjadi bagian dari prioritas strategis Perusahaan.
WEGE telah melakukan analisis skenario iklim secara kualitatif untuk menilai bagaimana risiko transisi dan risiko fisik terkait iklim dapat memengaruhi operasional, strategi, dan kinerja keuangan Perseroan dari waktu ke waktu. Analisis ini melengkapi Climate Risk Assessment (CRA) dengan mengevaluasi bagaimana perkembangan eksternal terkait iklim dapat memengaruhi profil risiko, peluang bisnis, kebutuhan investasi, serta arah implementasi Roadmap Net Zero Emission (NZE) Perseroan.
Untuk analisis risiko transisi, WEGE menerapkan skenario NGFS 2°C atau di bawahnya, yang dinilai relevan dengan konteks bisnis Perseroan dan industri konstruksi di Indonesia. Skenario ini mencerminkan jalur transisi rendah karbon yang didorong oleh penguatan kebijakan iklim, meningkatnya ekspektasi ESG dari investor dan pelanggan, semakin luasnya penerapan pengadaan hijau (green procurement), regulasi terkait karbon yang semakin ketat, serta akselerasi pengembangan teknologi rendah karbon. Dalam skenario ini, WEGE menilai potensi implikasi seperti meningkatnya permintaan terhadap bangunan hijau, konstruksi modular, desain hemat energi, dan solusi konstruksi rendah karbon.
Untuk analisis risiko iklim fisik, WEGE menerapkan skenario RCP 2.6 atau SSP1-2.6, yang merepresentasikan jalur iklim optimis dengan kenaikan suhu global yang dijaga di bawah 2°C. Dengan menggunakan skenario ini, WEGE memetakan potensi risiko iklim fisik, termasuk water stress, banjir, curah hujan ekstrem, serta bahaya terkait iklim lainnya di seluruh wilayah operasional Perseroan. Analisis ini dilakukan pada horizon waktu yang relevan, yaitu tahun 2025, 2030, dan 2060, guna mendukung perencanaan mitigasi serta memperkuat ketahanan operasional jangka panjang.
Hasil analisis skenario iklim ini menjadi dasar dalam memprioritaskan program dekarbonisasi, memperkuat langkah mitigasi risiko iklim, merencanakan kebutuhan investasi, serta menyelaraskan strategi bisnis Perseroan dengan Roadmap NZE dan tujuan keberlanjutan jangka panjang.
WEGE berkomitmen untuk mendukung pencapaian emisi gas rumah kaca nol bersih secara global serta jalur iklim nasional Indonesia menuju Net Zero Emission pada tahun 2060. Strategi Net Zero 2060 WEGE diselaraskan dengan tujuan Paris Agreement, termasuk upaya global untuk membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1,5°C, dengan tetap mempertimbangkan prinsip Common but Differentiated Responsibilities dan kondisi nasional Indonesia.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, WEGE telah menyusun rencana transisi yang memuat arah, prioritas, dan rencana aksi Perseroan dalam menurunkan emisi gas rumah kaca, khususnya untuk Emisi Cakupan 1 dan Cakupan 2. Rencana transisi tersebut didukung oleh berbagai pengungkit dekarbonisasi utama, antara lain penerapan inisiatif efisiensi energi, peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya, penerapan praktik konstruksi rendah karbon, pengembangan solusi konstruksi modular, serta penerapan prinsip Bangunan Gedung Hijau sesuai standar dan regulasi yang berlaku.
Untuk Emisi Cakupan 3, WEGE menerapkan pendekatan bertahap dalam pengelolaan emisi rantai nilai dengan memprioritaskan peningkatan kualitas data, penguatan pelibatan rantai pasok, serta integrasi aspek dekarbonisasi ke dalam proses bisnis inti Perseroan. Inisiatif ini menjadi dasar bagi WEGE untuk menyusun target penurunan emisi Cakupan 3 yang lebih komprehensif pada masa mendatang, sejalan dengan perkembangan kapasitas pengukuran emisi, ketersediaan data dari pemasok dan mitra kerja, serta strategi transisi rendah karbon Perseroan.
WEGE juga menyadari bahwa implementasi Roadmap Net Zero Emission memerlukan dukungan pendanaan yang terencana, terstruktur, dan terukur. Untuk itu, Perseroan berencana menyusun Net Zero Transition Financing Framework yang mencakup identifikasi kebutuhan investasi, prioritas program, serta alternatif sumber pendanaan untuk mendukung pelaksanaan program dekarbonisasi secara bertahap. Kerangka pendanaan ini diharapkan dapat memperkuat integrasi pertimbangan iklim ke dalam perencanaan bisnis, pengambilan keputusan investasi, dan strategi keberlanjutan jangka panjang Perseroan.
Pelibatan pemangku kepentingan merupakan salah satu elemen penting dalam rencana transisi WEGE. Perseroan melibatkan pelanggan untuk memahami kebutuhan dan ekspektasi terhadap bangunan hijau, efisiensi energi, serta solusi konstruksi rendah karbon. Masukan yang diperoleh dari proses pelibatan tersebut menjadi pertimbangan dalam penyempurnaan strategi transisi serta pengembangan produk dan layanan konstruksi yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, WEGE turut berperan aktif dalam mendukung kebijakan dan inisiatif pemerintah, khususnya terkait penerapan Bangunan Gedung Hijau di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Melalui penerapan prinsip Bangunan Gedung Hijau sesuai Peraturan Menteri PUPR No. 21 Tahun 2021, WEGE berkontribusi terhadap efisiensi energi, efisiensi air, serta pelestarian lingkungan, yang sejalan dengan tujuan mitigasi perubahan iklim dan Paris Agreement.
WEGE juga memahami bahwa transisi menuju Net Zero Emission dapat menimbulkan implikasi sosial bagi pekerja, pelanggan, mitra usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Oleh karena itu, Perseroan berencana mengembangkan penilaian dampak sosial dari rencana transisi secara bertahap untuk memastikan bahwa transisi dilaksanakan secara inklusif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Melalui rencana transisi ini, WEGE berupaya memperkuat ketahanan iklim Perseroan, menurunkan emisi dari kegiatan operasional, mendukung pengembangan konstruksi berkelanjutan, serta berkontribusi terhadap pencapaian target iklim nasional dan global.
WEGE memiliki komitmen dan strategi dalam mengelola limbah konstruksi termasuk limbah pembongkaran konstruksi secara bertanggung jawab sebagai bagian dari implementasi praktik pembangunan berkelanjutan. Komitmen dan strategi tersebut dituangkan dalam desain proyek konstruksi sebelum kegiatan pembangunan konstruksi dimulai yang mengarahkan pengelolaan limbah konstruksi dan pembongkaran agar dilakukan secara sistematis melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Rencana pengelolaan limbah telah dimasukkan ke dalam desain proyek konstruksi sebelum kegiatan pembangunan dimulai, sehingga pengendalian limbah dapat direncanakan secara sistematis sejak tahap awal untuk seluruh proyek konstruksi.
Dalam pelaksanaannya, seluruh proyek juga menetapkan target khusus terkait pengurangan limbah konstruksi, termasuk upaya reduce, reuse, dan recycle (3R) terhadap material konstruksi yang dihasilkan selama proses pembangunan di seluruh proyek konstruksi. WIKA Gedung telah mengimplementasikan pemilahan limbah di seluruh lokasi proyek konstruksi sehingga limbah yang dihasilkan dapat dikelola secara lebih optimal sesuai dengan jenis dan potensi pemanfaatannya. Perusahaan telah melakukan berbagai upaya pemanfaatan residu material untuk mendukung efisiensi dan keberlanjutan proyek konstruksi, antara lain penggunaan fly ash dan limbah bata ringan sebagai campuran screed lantai, pemanfaatan limbah besi, kayu, dan residu beton untuk kebutuhan proyek, penggunaan potongan bata ringan sebagai campuran mortar, pengolahan limbah besi menjadi steel deck dan safety railing, serta pemanfaatan drum bekas sebagai tempat sampah.
Selain itu, diterapkan berbagai inisiatif ramah lingkungan seperti pengembangan produk modular untuk mengurangi limbah konstruksi, penerapan metode prefabrikasi dan material daur ulang, penggunaan material lokal dalam radius ±800 km, serta pelaksanaan proyek dengan mempertimbangkan siklus hidup material guna menekan emisi dan limbah pada setiap tahap konstruksi. Contoh penerapan nyata dilakukan pada proyek Jakarta International Stadium (JIS) melalui penggunaan kembali limbah material untuk mendukung keberlanjutan proyek dan mengurangi jejak ekologis.
Untuk memastikan implementasi pengelolaan limbah konstruksi yang efektif, sepanjang tahun 2025 di seluruh proyek konstruksi, WEGE secara rutin memberikan imbauan, sosialisasi, dan pelatihan kepada seluruh tenaga kerja serta kontraktor mengenai teknik pengelolaan limbah konstruksi yang baik dan bertanggung jawab.
Timbulan limbah merupakan sisa material atau hasil buangan dari aktivitas operasional perusahaan, baik yang berasal dari kegiatan perkantoran maupun proyek. Limbah terbagi menjadi dua kategori utama yaitu Limbah Non B3 dan Limbah B3.
Secara keseluruhan, pengelolaan limbah menunjukkan tren yang lebih baik pada tahun 2025, khususnya pada penurunan Limbah Non B3 dan Limbah B3 di proyek.
Perusahaan menunjukkan komitmen terhadap aspek keberlanjutan melalui pengurangan timbulan limbah dan peningkatan pengelolaan lingkungan.
Diperlukan konsistensi monitoring, pengelolaan limbah terpadu, serta program reduce–reuse–recycle (3R) untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja lingkungan di tahun berikutnya.
Target timbulan limbah non-B3 di proyek pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 435.63 ton. Realisasi timbulan limbah non-B3 pada tahun 2025 tercatat sebesar 396.03 ton, atau lebih rendah 39.60 ton dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Target timbulan limbah B3 di proyek pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 51.12 ton. Realisasi timbulan limbah B3 pada tahun 2025 tercatat sebesar 46.48 ton, atau lebih rendah 4.64 ton dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Cakupan Data =
2022: Kantor pusat
2023: Kantor pusat + proyek modular
2024: 60% operasi + kantor pusat
2025: 100% operasi + konsesi + kantor pusat
Material ditempatkan di area penyimpanan yang tertata rapi, aman, dan sesuai jenisnya.
Sampah diidentifikasi untuk memastikan pemilahan yang tepat sesuai jenis dan karakteristiknya.


Pengendalian material B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dilakukan sebagai upaya untuk mencegah pencemaran lingkungan dan menjaga keselamatan kerja di area operasional maupun proyek. Proses pengendalian dimulai dengan menyediakan tempat sampah khusus limbah B3 serta fasilitas pendukung sesuai standar keselamatan.







Limbah non B3 cair adalah air limbah yang dihasilkan dari aktivitas operasional sehari-hari yang tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun. Perusahaan berkomitmen mengelola limbah cair secara bertanggungjawab untuk menjaga kualitas lingkungan dan mendukung keberlangsungan.
Seiring meningkatnya kesadaran akan ketersediaan sumber air bersih yang terbatas perusahaan mengambil langkah stratigis untuk mengoptimalkan pemakaian air. Salah satu inisiatif utama adalah pembangunan Waste Water Treatment Plant (WWTP) di kantor pusat pada tahun 2021. Fasilitas ini dirancang untuk mengolah limbah cair sebelum di buang ke lingkungan agar memenuhi baku mutu dan mendukung keberlanjutan perusahaan. Sementara itu, di proyek limbah non B3 cair diserahkan ke pihak ketiga untuk diangkut.
Bio Tank
Mobil Septic Tank
Program strategis PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) ini merupakan inisiatif pengembangan pemanfaatan material sisa konstruksi menjadi material dan produk bernilai tambah melalui kolaborasi inovasi bersama Universitas Gadjah Mada. Program ini diarahkan untuk mendorong terciptanya inovasi material, pengembangan intangible asset perusahaan, serta membuka peluang komersialisasi dan pengembangan bisnis baru berbasis hasil riset dan teknologi.
Selain mendukung upaya peningkatan keberlanjutan dalam proses konstruksi, program ini juga diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan melalui pengurangan waste material, optimalisasi pemanfaatan sumber daya, peningkatan efisiensi operasional, serta potensi pengurangan Harga Pokok Produksi (HPP). Pengembangan inovasi juga diarahkan pada potensi kepemilikan HAKI/intellectual property, pengembangan produk material alternatif, serta peluang implementasi pada proyek maupun pasar konstruksi yang lebih luas.
Melalui sinergi antara dunia industri dan akademisi, program ini menjadi langkah strategis WEGE dalam membangun kapabilitas inovasi yang berorientasi pada efisiensi, nilai tambah bisnis, dan penguatan daya saing perusahaan di masa depan.
WEGE menyadari bahwa keberlangsungan keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dari kualitas lingkungan hidup. Oleh karena itu, Perseroan berupaya melindungi berbagai unsur ekosistem mulai dari spesies flora dan fauna, keragaman genetik, hingga keseimbangan ekosistem alami, Penjagaan terhadap elemen-elemen tersebut dipandang sebagai tanggung jawab yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan operasional perusahaan, karena kondisi habitat yang stabil akan mendukung keberlanjutan lingkungan dalam jangka panjang.
WEGE menyadari bahwa modal alam (natural capital) memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan operasional perusahaan, khususnya pada sektor konstruksi yang berkaitan erat dengan penggunaan sumber daya alam dan lahan. Untuk itu, WEGE melakukan asesmen risiko keanekaragaman hayati di seluruh proyek konstruksi tahun 2025. Asesmen tersebut mencakup potensi risiko seperti curah hujan ekstrem, banjir, perubahan penggunaan lahan, dan kondisi ekosistem, termasuk risiko yang teridentifikasi WEGE mengintegrasikan aspek lingkungan dan keanekaragaman hayati ke dalam Risk Register perusahaan, menerapkan mitigasi dan pemulihan lingkungan melalui penanaman vegetasi, serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mendorong praktik konstruksi berkelanjutan yang meminimalkan dampak terhadap ekosistem dan memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi masyarakat serta lingkungan
WEGE telah menunjukkan komitmen awal terhadap pelestarian keanekaragaman hayati melalui pelaksanaan berbagai inisiatif yang terintegrasi dengan kegiatan operasional dan program sosial lingkungan perusahaan.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, WEGE mengklasifikasikan produk modular sebagai salah satu portofolio produk berkelanjutan sebagai solusi konstruksi berkelanjutan. Modular tidak hanya dilihat sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai strategi untuk mendukung prinsip green construction, circular economy, dan efisiensi energi dalam industri konstruksi.
Konsep modular merupakan pendekatan konstruksi modern yang menekankan pada proses fabrikasi komponen bangunan secara terstandarisasi di luar lokasi proyek (off-site construction), kemudian dirakit secara sistematis di lapangan. Metode ini tidak hanya meningkatkan efisiensi waktu dan kualitas pekerjaan, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca serta meminimalkan potensi kesalahan konstruksi.
WEGE meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan bangunan gedung hijau guna mendukung pengembangan produk dan proses konstruksi yang lebih berkelanjutan, efisien, serta memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan lingkungan.
Dalam rangka menjamin kredibilitas produk berkelanjutan bagi berbagai pihak pemangku kepentingan, saat ini, produk berkelanjutan Bangunan Gedung Hijau WEGE sedang dalam proses verifikasi eksternal. Hasil verifikasi ini diharapkan dapat memberikan keyakinan tambahan terkait kualitas, keberlanjutan, dan integritas produk, sekaligus menjadi dasar bagi WEGE untuk terus meningkatkan praktik konstruksi hijau dan mendukung standar pembangunan berkelanjutan.
Pencapaian penjualan produk keberlanjutan akan memberikan insentif berupa reward (jasa produksi) maupun rekognisi yang diperuntukkan bagi seluruh karyawan maupun manajemen Perusahaan berupa rekognisi atas keberhasilan mencapai target penjualan
Sebagai bagian dari komitmen terhadap pengembangan produk berkelanjutan, WEGE memiliki Pabrik Modular di Bogor yang mendukung inovasi metode konstruksi modern. Infrastruktur ini memungkinkan peningkatan efisiensi material, pengurangan dampak lingkungan, serta penyediaan solusi bangunan yang lebih berkelanjutan bagi pelanggan.
WEGE tetap terus berinovasi dan mengembangkan portofolio produk berkelanjutan produk modular sebagai bagian dari strategi berkelanjutan, menghadirkan solusi konstruksi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan adaptif terhadap kebutuhan pasar.
Lebih lanjut, WEGE telah merumuskan kebutuhan CAPEX untuk green material atau green portofolio dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026-2030 sebesar 4,04%, sebagai bentuk komitmen Perseroan dalam mengalokasikan investasi menuju konstruksi dan material yang lebih ramah lingkungan.
Pendapatan berasal dari penerapan material ramah lingkungan, teknologi modular, serta sistem efisiensi energi dan air. Produk ini meningkatkan nilai proyek sekaligus memenuhi tuntutan pasar terhadap pembangunan hijau.
Meningkatkan daya saing proyek, menarik investor, serta membuka peluang insentif.
Integrasi keduanya mendorong peningkatan nilai jual proyek, memperluas pasar, dan menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan.
|
PROYEK
|
2025
|
2024
|
2023
|
2022
|
|---|---|---|---|---|
|
Jakarta International Stadium (JO)
|
- | - | - | 158,929 |
|
Paket 3 Pembangunan AGLC,ASLC & IFFLC (UGM) – JO
|
- | - | - | - |
|
Pembangunan SGLC & ERIC - UGM (JO)
|
- | - | - | 42,313 |
|
Gedung Pusat Inovasi & Pengembangan SDM Industri 4.0
|
- | - | - | - |
|
Pembangunan Gedung Pendidikan dan Laboratorium MKGI (Center of Excellence) – BMKG
|
- | - | - | 7,486 |
|
Gedung Kemenko 1 – IKN
|
33,544 | 475,234 | 284,791 | - |
|
Rumah Susun Paspampres (Hunian ASN IKN)
|
180,547 | 1,189,309 | 412,447 | - |
|
Pembangunan Bangunan Gedung Wing 1 dan Kawasan Kantor Kementerian PUPR
|
307,836 | 283,049 | - | - |
|
Bangunan Gedung dan Kawasan Basilika & Gereja (JO)
|
200,149 | - | - | - |
|
Rancang Bangun Pembangunan Tower Undip Tembalang
|
76,811 | - | - | - |
|
TOTAL
Rp Juta
|
798,887 | 1,947,592 | 697,238 | 208,728 |
|
Pendapatan Keseluruhan Proyek
Rp Juta
|
1,623.56 | 3,673.53 | 3,979.71 | 2,366.00 |
|
% Pendapatan BGH
|
49% | 53% | 18% | 9% |
|
PROYEK
|
2025
|
2024
|
2023
|
2022
|
|---|---|---|---|---|
|
Jumlah Bangunan Bersertifikat Hijau
|
2 | 2 | 3 | - |
|
Jumlah Keseluruhan Proyek
|
7 | 14 | 21 | 18 |
|
% Jumlah Bangunan Bersertifikat Hijau terhadap Jumlah Keseluruhan Proyek
|
28,5% | 14,2% | 14,2% | 0% |
Dalam upaya mengurangi limbah, WEGE mengimplementasikan produk Modular dengan metode Prefabricated Prefinished Volumetric Construction (PPVC) untuk mengurangi limbah konstruksi dan meningkatkan efisiensi. Penggunaan modular juga meningkatkan efisiensi penggunaan waktu dan sumber daya, sekaligus mendukung pencapaian target keberlanjutan perusahaan.