LATAR BELAKANG & TUJUAN
- Meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui sistem zero runoff
- Mengurangi limpasan air hujan
- Meningkatkan infiltrasi dan memaksimalkan daur ulang air
- Mendukung penghematan air dan kelestarian lingkungan
WEGE berkomitmen menerapkan konstruksi berkelanjutan melalui penyediaan produk dan jasa berkualitas dengan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab sepanjang construction lifecycle, penerapan sistem manajemen lingkungan secara konsisten, pengendalian dampak lingkungan, serta inovasi dan efisiensi untuk mendukung agenda transisi iklim global dan penciptaan nilai berkelanjutan.
(dalam ribu)
WEGE telah menerapkan Sistem Manajemen Energi berdasarkan ISO 50001:2018 dengan cakupan implementasi di Kantor Pusat, Pabrik, dan Fasilitas Perkantoran di Pabrik Modular, serta Proyek.
Perseroan berkomitmen meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan bahan bakar melalui berbagai inisiatif, antara lain pemanfaatan panel surya, penghematan listrik dengan mematikan peralatan yang tidak digunakan, optimalisasi penggunaan AC, penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi konsumsi BBM, serta pengaturan operasional alat berat agar penggunaan bahan bakar lebih efisien. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya Perseroan dalam mendukung operasional yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Adapun pencapaian kinerja energi secara korporasi ditetapkan target penghematan energi (energy saving) sebesar tahun 2% di tahun 2025.
Target penggunaan listrik pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 19,579 GJ. Realisasi penggunaan listrik pada tahun 2025 tercatat sebesar 17,799 GJ, atau lebih rendah 1,780 GJ dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Target penggunaan bahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 426,032 GJ. Realisasi penggunaan BBM pada tahun 2025 tercatat sebesar 387,301 GJ, atau lebih rendah 38,731 GJ dibandingkan target yang telah ditetapkan.
WEGE mendukung transisi menuju pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan energi terbarukan secara bertahap, yang saat ini telah diimplementasikan pada fasilitas pabrik modular melalui penggunaan panel surya sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon.
1.161 kWh
1.023 kWh
1.387 kWh
WEGE menerapkan program efisiensi energi pada operasional kantor dan proyek melalui pemanfaatan teknologi hemat energi, optimalisasi penggunaan peralatan, serta pengendalian konsumsi listrik secara berkelanjutan. Inisiatif ini mendukung pengurangan biaya operasional, penurunan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan kinerja lingkungan perusahaan.
(kWh/m2/bulan)
(% dari rencana pengurangan penggunaan BBM)
WEGE berupaya mengoptimalkan penggunaannya melalui berbagai inisiatif efisiensi energi. Upaya ini sekaligus mendukung implementasi Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi.
WEGE memahami bahwa air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan manusia, tidak hanya untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di sekitar kantor pusat maupun area proyek.
Perusahaan memperoleh air dari dua sumber utama, yaitu PDAM dan air tanah, dengan pengelolaan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan perlindungan sumber daya air. Selama periode pelaporan, pemantauan konsumsi air dilakukan pada kantor pusat dan seluruh proyek. Pengawasan di kantor pusat dilakukan secara rutin oleh Corporate Secretary untuk memastikan penggunaan air tetap efisien dan memenuhi target pengelolaan yang telah ditetapkan.
Target penggunaan air di proyek pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 47,996 m³. Realisasi penggunaan air pada tahun 2025 tercatat sebesar 43,605 m³, atau lebih rendah 4,391 m³ dibandingkan target yang telah ditetapkan.
WEGE memahami bahwa air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan manusia, tidak hanya untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di sekitar kantor pusat maupun area proyek. Perusahaan telah memasang perangkat penghemat air (water saving devices) berbasis sensor untuk optimalkan penggunaan air selama kegiatan proyek. Selain itu, flow meter atau watermeter juga dipasang disetiap lokasi proyek baru untuk meningkatkan akurasi pencatatan serta efektivitas pemantauan konsumsi air secara berkala.
Perusahaan telah menerapkan beberapa program efisiensi penggunaan air di proyek konstruksi.
Mengingat semakin terbatasnya sumber air bersih, perusahaan mengambil langkah strategis untuk mengoptimalkan pemakaian air. Salah satunya adalah pemasangan Waste Water Treatment Plant (WWTP) di kantor pusat sejak 2021. Fasilitas ini memungkinkan air limbah yang telah melalui proses pengolahan digunakan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti penyiraman tanaman dan pemeliharaan area hijau.
Dalam pengelolaan air limbah, perusahaan memastikan bahwa setiap aliran limbah diproses dengan benar agar tidak mencemari lingkungan. Air bekas pakai dari kantor pusat dan proyek dialirkan melalui sistem pembuangan terstruktur.
Pada beberapa proyek, air bekas cuci beton diarahkan terlebih dahulu ke bak pengendapan untuk menghilangkan material padat sebelum dibuang ke saluran kota. Sementara itu, limbah dari toilet dialirkan ke lubang resapan melalui septic tank, memastikan proses pengelolaan berlangsung aman dan ramah lingkungan.
Dilakukan penampungan pada septic tank sementara, kerja sama dengan pihak ketiga untuk diangkut keluar proyek setiap seminggu sekali.
Perusahaan juga melaksanakan program edukasi bagi seluruh karyawan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya penghematan air. Sosialisasi dilakukan di seluruh unit kerja, termasuk kantor pusat, pabrik, dan area proyek, untuk membangun kebiasaan penggunaan air yang lebih bijak. Dengan langkah ini, perusahaan berharap dapat menurunkan konsumsi air secara signifikan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya air.
| Tahun | Emisi (Cakupan 1 & Cakupan 2) | Reduksi Emisi | ||
|---|---|---|---|---|
| Keluaran | Perbandingan Tahun sebelumnya | Realisasi | Target | |
| 2022 | - | - | - | - |
| 2023 | 11,880.7 | - | 0% | 0% |
| 2024 | 18,662.0 | 11,880.7 | 0% | 0% |
| 2025 | 24,106.9 | 18,662.0 | 0% | 0% |
| 2026 | 31,723.3 | 24,106.9 | 0% | 0% |
WEGE berkomitmen untuk mendukung transisi iklim global melalui strategi pengelolaan gas rumah kaca yang komprehensif. Peta jalan ini menguraikan komitmen jangka panjang Perusahaan untuk mengurangi emisi operasional, meningkatkan efisiensi energi, mempercepat adopsi energi terbarukan, dan mencapai Net Zero Emission sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan melalui efisiensi energi, elektrifikasi pada operasional, hingga penggunaan energi terbarukan.
WEGE menargetkan pencapaian Net Zero Emission atau emisi nol bersih pada tahun 2060 untuk Cakupan 1 dan Cakupan 2. Komitmen ini menjadi bagian dari arah strategis perusahaan dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung upaya global menghadapi perubahan iklim.
WEGE menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai bagian dari komitmen jangka panjang menuju operasional konstruksi yang lebih rendah karbon. upaya ini dilakukan secara bertahap melalui penugatan sistem investarisasi emisi, peningkatan efisiensi energi, serta penerapan teknologi konstruksi yang lebih ramah lingkungan.
Roadmap Net Zero Emission mengungkapkan strategi dekarbonisasi bertahap yang berfokus pada efisiensi operasional, elektrifikasi, integrasi energi terbarukan, dan pengelolaan energi cerdas guna mendukung pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060.
WEGE secara bertahap melakukan pengelolaan dan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui pemantauan emisi, efisiensi energi, serta penerapan praktik operasional yang lebih berkelanjutan.
Perhitungan emisi mencakup Cakupan 1, Cakupan 2, dan Cakupan 3 sesuai pedoman IPCC Guidelines dan faktor emisi ketenagalistrikan DJK ESDM.
Pada tahun 2024 dan 2025, WEGE telah berhasil melakukan pengukuran dan pelaporan emisi Cakupan 3 untuk tiga kategori utama, yaitu transportasi dan distribusi hulu, perjalanan dinas, serta pembelian barang dan jasa..
Target Emisi pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 27,658 tCO2e. Realisasi emisi pada tahun 2025 tercatat sebesar 25,143 tCO2e, atau lebih rendah 2,524 tCO2e dibandingkan target yang telah ditetapkan.
WEGE mengidentifikasi perubahan iklim sebagai risiko sekaligus peluang strategis dalam pengembangan bisnis berkelanjutan. Risiko utama meliputi dampak fisik seperti cuaca ekstrem, kenaikan suhu, banjir, dan kenaikan permukaan air laut yang dapat menghambat proyek, meningkatkan biaya operasional, serta menurunkan produktivitas. Untuk mitigasinya, WEGE menerapkan penguatan risk assessment, adaptive scheduling, desain infrastruktur yang lebih resilien, efisiensi penggunaan air, serta perlindungan asuransi proyek.
Dari sisi transisi, perubahan regulasi karbon dan standar bangunan hijau menjadi tantangan yang direspons melalui penerapan green design, pengembangan konstruksi rendah karbon, dan peningkatan transparansi ESG guna menjaga daya saing serta kepercayaan investor. Di sisi peluang, WEGE melihat potensi besar pada pembangunan green building, Zero Emission Building (ZEB), energi terbarukan, dan infrastruktur hijau yang mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan dan ketahanan jangka panjang perusahaan.
WEGE memiliki komitmen dan strategi dalam mengelola limbah konstruksi termasuk limbah pembongkaran konstruksi secara bertanggung jawab sebagai bagian dari implementasi praktik pembangunan berkelanjutan. Komitmen dan strategi tersebut dituangkan dalam desain proyek konstruksi sebelum kegiatan pembangunan konstruksi dimulai yang mengarahkan pengelolaan limbah konstruksi dan pembongkaran agar dilakukan secara sistematis melalui prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Rencana pengelolaan limbah telah dimasukkan ke dalam desain proyek konstruksi sebelum kegiatan pembangunan dimulai, sehingga pengendalian limbah dapat direncanakan secara sistematis sejak tahap awal untuk seluruh proyek konstruksi.
Dalam pelaksanaannya, seluruh proyek juga menetapkan target khusus terkait pengurangan limbah konstruksi, termasuk upaya reduce, reuse, dan recycle (3R) terhadap material konstruksi yang dihasilkan selama proses pembangunan di seluruh proyek konstruksi. WIKA Gedung telah mengimplementasikan pemilahan limbah di seluruh lokasi proyek konstruksi sehingga limbah yang dihasilkan dapat dikelola secara lebih optimal sesuai dengan jenis dan potensi pemanfaatannya. Perusahaan telah melakukan berbagai upaya pemanfaatan residu material untuk mendukung efisiensi dan keberlanjutan proyek konstruksi, antara lain penggunaan fly ash dan limbah bata ringan sebagai campuran screed lantai, pemanfaatan limbah besi, kayu, dan residu beton untuk kebutuhan proyek, penggunaan potongan bata ringan sebagai campuran mortar, pengolahan limbah besi menjadi steel deck dan safety railing, serta pemanfaatan drum bekas sebagai tempat sampah.
Selain itu, diterapkan berbagai inisiatif ramah lingkungan seperti pengembangan produk modular untuk mengurangi limbah konstruksi, penerapan metode prefabrikasi dan material daur ulang, penggunaan material lokal dalam radius ±800 km, serta pelaksanaan proyek dengan mempertimbangkan siklus hidup material guna menekan emisi dan limbah pada setiap tahap konstruksi. Contoh penerapan nyata dilakukan pada proyek Jakarta International Stadium (JIS) melalui penggunaan kembali limbah material untuk mendukung keberlanjutan proyek dan mengurangi jejak ekologis.
Untuk memastikan implementasi pengelolaan limbah konstruksi yang efektif, sepanjang tahun 2025 di seluruh proyek konstruksi, WEGE secara rutin memberikan imbauan, sosialisasi, dan pelatihan kepada seluruh tenaga kerja serta kontraktor mengenai teknik pengelolaan limbah konstruksi yang baik dan bertanggung jawab.
Timbulan limbah merupakan sisa material atau hasil buangan dari aktivitas operasional perusahaan, baik yang berasal dari kegiatan perkantoran maupun proyek. Limbah terbagi menjadi dua kategori utama yaitu Limbah Non B3 dan Limbah B3.
Secara keseluruhan, pengelolaan limbah menunjukkan tren yang lebih baik pada tahun 2025, khususnya pada penurunan Limbah Non B3 dan Limbah B3 di proyek.
Perusahaan menunjukkan komitmen terhadap aspek keberlanjutan melalui pengurangan timbulan limbah dan peningkatan pengelolaan lingkungan.
Diperlukan konsistensi monitoring, pengelolaan limbah terpadu, serta program reduce–reuse–recycle (3R) untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja lingkungan di tahun berikutnya.
Target timbulan limbah non-B3 di proyek pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 435.63 ton. Realisasi timbulan limbah non-B3 pada tahun 2025 tercatat sebesar 396.03 ton, atau lebih rendah 39.60 ton dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Target timbulan limbah B3 di proyek pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 51.12 ton. Realisasi timbulan limbah B3 pada tahun 2025 tercatat sebesar 46.48 ton, atau lebih rendah 4.64 ton dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Material ditempatkan di area penyimpanan yang tertata rapi, aman, dan sesuai jenisnya.
Sampah diidentifikasi untuk memastikan pemilahan yang tepat sesuai jenis dan karakteristiknya.


Pengendalian material B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dilakukan sebagai upaya untuk mencegah pencemaran lingkungan dan menjaga keselamatan kerja di area operasional maupun proyek. Proses pengendalian dimulai dengan menyediakan tempat sampah khusus limbah B3 serta fasilitas pendukung sesuai standar keselamatan.







Limbah non B3 cair adalah air limbah yang dihasilkan dari aktivitas operasional sehari-hari yang tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun. Perusahaan berkomitmen mengelola limbah cair secara bertanggungjawab untuk menjaga kualitas lingkungan dan mendukung keberlangsungan.
Seiring meningkatnya kesadaran akan ketersediaan sumber air bersih yang terbatas perusahaan mengambil langkah stratigis untuk mengoptimalkan pemakaian air. Salah satu inisiatif utama adalah pembangunan Waste Water Treatment Plant (WWTP) di kantor pusat pada tahun 2021. Fasilitas ini dirancang untuk mengolah limbah cair sebelum di buang ke lingkungan agar memenuhi baku mutu dan mendukung keberlanjutan perusahaan. Sementara itu, di proyek limbah non B3 cair diserahkan ke pihak ketiga untuk diangkut.
Bio Tank
Mobil Septic Tank
Program strategis PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) ini merupakan inisiatif pengembangan pemanfaatan material sisa konstruksi menjadi material dan produk bernilai tambah melalui kolaborasi inovasi bersama Universitas Gadjah Mada. Program ini diarahkan untuk mendorong terciptanya inovasi material, pengembangan intangible asset perusahaan, serta membuka peluang komersialisasi dan pengembangan bisnis baru berbasis hasil riset dan teknologi.
Selain mendukung upaya peningkatan keberlanjutan dalam proses konstruksi, program ini juga diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan melalui pengurangan waste material, optimalisasi pemanfaatan sumber daya, peningkatan efisiensi operasional, serta potensi pengurangan Harga Pokok Produksi (HPP). Pengembangan inovasi juga diarahkan pada potensi kepemilikan HAKI/intellectual property, pengembangan produk material alternatif, serta peluang implementasi pada proyek maupun pasar konstruksi yang lebih luas.
Melalui sinergi antara dunia industri dan akademisi, program ini menjadi langkah strategis WEGE dalam membangun kapabilitas inovasi yang berorientasi pada efisiensi, nilai tambah bisnis, dan penguatan daya saing perusahaan di masa depan.
WEGE menyadari bahwa keberlangsungan keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dari kualitas lingkungan hidup. Oleh karena itu, Perseroan berupaya melindungi berbagai unsur ekosistem mulai dari spesies flora dan fauna, keragaman genetik, hingga keseimbangan ekosistem alami, Penjagaan terhadap elemen-elemen tersebut dipandang sebagai tanggung jawab yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan operasional perusahaan, karena kondisi habitat yang stabil akan mendukung keberlanjutan lingkungan dalam jangka panjang.
WEGE menyadari bahwa modal alam (natural capital) memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan operasional perusahaan, khususnya pada sektor konstruksi yang berkaitan erat dengan penggunaan sumber daya alam dan lahan. Untuk itu, WEGE melakukan asesmen risiko keanekaragaman hayati di seluruh proyek konstruksi tahun 2025. Asesmen tersebut mencakup potensi risiko seperti curah hujan ekstrem, banjir, perubahan penggunaan lahan, dan kondisi ekosistem, termasuk risiko yang teridentifikasi WEGE mengintegrasikan aspek lingkungan dan keanekaragaman hayati ke dalam Risk Register perusahaan, menerapkan mitigasi dan pemulihan lingkungan melalui penanaman vegetasi, serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mendorong praktik konstruksi berkelanjutan yang meminimalkan dampak terhadap ekosistem dan memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi masyarakat serta lingkungan
WEGE telah menunjukkan komitmen awal terhadap pelestarian keanekaragaman hayati melalui pelaksanaan berbagai inisiatif yang terintegrasi dengan kegiatan operasional dan program sosial lingkungan perusahaan.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, WEGE mengklasifikasikan produk modular sebagai salah satu portofolio produk berkelanjutan sebagai solusi konstruksi berkelanjutan. Modular tidak hanya dilihat sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai strategi untuk mendukung prinsip green construction, circular economy, dan efisiensi energi dalam industri konstruksi.
Konsep modular merupakan pendekatan konstruksi modern yang menekankan pada proses fabrikasi komponen bangunan secara terstandarisasi di luar lokasi proyek (off-site construction), kemudian dirakit secara sistematis di lapangan. Metode ini tidak hanya meningkatkan efisiensi waktu dan kualitas pekerjaan, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca serta meminimalkan potensi kesalahan konstruksi.
WEGE meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan bangunan gedung hijau guna mendukung pengembangan produk dan proses konstruksi yang lebih berkelanjutan, efisien, serta memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan lingkungan.
Dalam rangka menjamin kredibilitas produk berkelanjutan bagi berbagai pihak pemangku kepentingan, saat ini, produk berkelanjutan Bangunan Gedung Hijau WEGE sedang dalam proses verifikasi eksternal. Hasil verifikasi ini diharapkan dapat memberikan keyakinan tambahan terkait kualitas, keberlanjutan, dan integritas produk, sekaligus menjadi dasar bagi WEGE untuk terus meningkatkan praktik konstruksi hijau dan mendukung standar pembangunan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap pengembangan produk berkelanjutan, WEGE memiliki Pabrik Modular di Bogor yang mendukung inovasi metode konstruksi modern. Infrastruktur ini memungkinkan peningkatan efisiensi material, pengurangan dampak lingkungan, serta penyediaan solusi bangunan yang lebih berkelanjutan bagi pelanggan.
WIKA Gedung tetap terus berinovasi dan mengembangkan portofolio produk berkelanjutan produk modular sebagai bagian dari strategi berkelanjutan, menghadirkan solusi konstruksi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan adaptif terhadap kebutuhan pasar.
Pendapatan berasal dari penerapan material ramah lingkungan, teknologi modular, serta sistem efisiensi energi dan air. Produk ini meningkatkan nilai proyek sekaligus memenuhi tuntutan pasar terhadap pembangunan hijau.
Meningkatkan daya saing proyek, menarik investor, serta membuka peluang insentif.
Integrasi keduanya mendorong peningkatan nilai jual proyek, memperluas pasar, dan menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan.
|
PROYEK
|
2025
|
2024
|
2023
|
2022
|
|---|---|---|---|---|
|
Jakarta International Stadium (JO)
|
- | - | - | 158,929 |
|
Paket 3 Pembangunan AGLC,ASLC & IFFLC (UGM) – JO
|
- | - | - | - |
|
Pembangunan SGLC & ERIC - UGM (JO)
|
- | - | - | 42,313 |
|
Gedung Pusat Inovasi & Pengembangan SDM Industri 4.0
|
- | - | - | - |
|
Pembangunan Gedung Pendidikan dan Laboratorium MKGI (Center of Excellence) – BMKG
|
- | - | - | 7,486 |
|
Gedung Kemenko 1 – IKN
|
33,544 | 475,234 | 284,791 | - |
|
Rumah Susun Paspampres (Hunian ASN IKN)
|
180,547 | 1,189,309 | 412,447 | - |
|
Pembangunan Bangunan Gedung Wing 1 dan Kawasan Kantor Kementerian PUPR
|
307,836 | 283,049 | - | - |
|
Bangunan Gedung dan Kawasan Basilika & Gereja (JO)
|
200,149 | - | - | - |
|
Rancang Bangun Pembangunan Tower Undip Tembalang
|
76,811 | - | - | - |
|
TOTAL
Rp Juta
|
798,887 | 1,947,592 | 697,238 | 208,728 |
|
Pendapatan Keseluruhan Proyek
Rp Juta
|
1,623.56 | 3,673.53 | 3,979.71 | 2,366.00 |
|
% Pendapatan BGH
|
49% | 53% | 18% | 9% |
|
PROYEK
|
2025
|
2024
|
2023
|
2022
|
|---|---|---|---|---|
|
Jumlah Bangunan Bersertifikat Hijau
|
2 | 2 | 3 | - |
|
Jumlah Keseluruhan Proyek
|
7 | 14 | 21 | 18 |
|
% Jumlah Bangunan Bersertifikat Hijau terhadap Jumlah Keseluruhan Proyek
|
28,5% | 14,2% | 14,2% | 0% |
Dalam upaya mengurangi limbah, WEGE mengimplementasikan produk Modular dengan metode Prefabricated Prefinished Volumetric Construction (PPVC) untuk mengurangi limbah konstruksi dan meningkatkan efisiensi. Penggunaan modular juga meningkatkan efisiensi penggunaan waktu dan sumber daya, sekaligus mendukung pencapaian target keberlanjutan perusahaan.